Selamat datang dan bergabung dengan Ikbal Bahua Kreatif

Raih masa depan dengan mengedepankan Agama, Etika, Moral, Budaya, IPTEKS dan Kinerja pada setiap Perjalanan Aktivitas Hidupmu

PENYULUHAN PEMBANGUNAN DAN MASA DEPAN BANGSA

SOLUSI MEMBANGUN DAN MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT : PERTANIAN, SOSIAL DAN KEMANUSIAN, EKONOMI, POLITIK, PENDIDIKAN, HUKUM, AGAMA DAN BUDAYA DALAM MENGISI ERA REFORMASI DENGAN IPTEKS DAN KEMANDIRIAN SERTA SEMANGAT KERJA.

Monday, December 22, 2008

KONSEP PENDIDIKAN ORANG DEWASA DAN APLIKASINYA

Oleh: Mohamad Ikbal Bahua*), Dwi Sadono**) dan Asi Mulyaningsih***)

1. Definisi yang diperluas tentang Pendidikan Orang Dewasa

Membangun manusia pembangunan dapat terjadi kalau diberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap perkembangan pendidikan orang dewasa. Pemahanan tentang konsep pendidikan orang dewasa telah banyak diperkenalkan oleh berbagai tokoh, sebagai berikut:

Konsep Margaret Mead. Tokoh ini memberi pemikiran tentang lateral transmission. Konsep ini menganggap klasifikasi pendidikan berdasarkan umur tidak relevan. Tetapi pada Lateral Transmission, Mead mengemukakan bahwa suatu proses pendidikan menitik beratkan pada berbagi pengetahuan yakni pada mereka yang telah mengetahui kepada mereka yang belum tahu. Belajar adalah merangsang rasa ingin tahu. Dalam memfasilitasi transmisi lateral, pendidikan dapat dibagi dengan primary education (pendidikan dasar) dan secondary education (pengembangan dari pendidikan dasar).

Konsep Lindeman membahas bahwa pendidikan adalah kehidupan dan kehidupan adalah pendidikan. Pemikiran Lindeman ini berbeda dengan Mead. Lindeman berorientasi pada pendidikan sebagai lingkaran setan yang tidak berujung, dimana pendidikan orang dewasa dapat dicirikan dengan berlangsung seumur hidup yang merupakan suatu lingkaran yang berdaur. Pendekatannya berdasar situasi, kebutuhan dan minat warga belajar dengan menjadikan pendidikan formal sebagai pusatnya.

Konsep Robert D. Boyd, menekankan pada sudut pandang psikologi yakni kematangan (maturity), kemandirian (independensi) warga belajar. Orang dewasa adalah pribadi yang matang dan independen, dan telah mengalami beberapa tahapan proses psikologis yang berbeda dari psikologis anak-anak. Mereka telah memiliki standar sendiri, memiliki pengalaman dan butuh penghargaan. Materi pelajaran harus sesuai dengan kebutuhannya.

Konsep Allen Tough lebih terarah pada proyek belajar yang merupakan suatu upaya belajar berkelanjutan, direncanakan secara matang, dan terdiri dari serangkaian episode yang saling berhubungan. Episode belajar adalah suatu perode waktu yang sengaja disediakan untuk serangkaian aktivitas yang serupa atau pun yang berhubungan, tidak diselingi oleh aktivitas lain.

Berdasarkan beberapa uraian pada konsep di atas, maka pendidikan orang dewasa dapat didefinisikan sebagai pendidikan yang diperuntukan bagi orang-orang dewasa dalam lingkungan masyarakatnya, agar mereka dapat mengembangkan kemampuan, memperkaya pengetahuan, mengembangkan keterampilan, meningkatkan kualifikasi teknik dan profesi yang telah dimilikinya, memperoleh cara-cara baru serta merubah sikap dan perilakunya. Pendidikan orang dewasa berlangsung kapan saja, sepanjang hidup setelah matang atau dewasa, mandiri dan independen. Tidak terikat pada ruang tertentu dengan materi yang sesuai dengan kebutuhan warga belajar terutama dari pengalaman warga belajar dan disampaikan dengan metode demokratis, terbuka, saling menghargai dan berbagi pengalaman yang ditunjang oleh pendidik sebagai fasilitator yang memiliki filsafat kerja dan keinginan membantu warga belajar. Dengan kata lain, orang dewasa belajar karena membutuhkan tingkatan perkembangan dalam menghadapi peranannya apakah sebagai pekerja, orang tua, pimpinan suatu organisasi, dan lain-lain. Kesiapan belajar mereka bukan semata-mata karena paksaan akademik, tetapi karena kebutuhan menghadapi masalah hidupnya.

2 Bagaimana Pendidikan Orang Dewasa dapat membantu Orang Dewasa dalam Mengatasi Krisis Energi

Krisis energi merupakan krisis yang berkepanjangan dialami bangsa Indonesia, karena krisis ini telah mempengaruhi sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat. Sebagai contoh kelangkaan bahan bakar minyak telah berdampak pada kemiskinan, kelaparan, ekonomi, kesehatan, industri, berkurangnya pasokan energi listrik dan sebagainya. Kelangkaan minyak tanah telah membuat masyarakat pengguna minyak tanah terutama dipedasaan harus rela antri beberapa jam hanya untuk mendapatkan 5 liter minyak tanah bahkan hanya mendapatkan jatah minyak tanah sebanyak 3 liter, sehingga masyarakat ini tidak dapat melakukan aktivitas lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Indonesia sesungguhnya memiliki potensi sumber energi terbarukan dalam jumlah besar. Beberapa diantaranya bisa segera diterapkan di tanah air, seperti: bioethanol sebagai pengganti bensin, biogas, biodiesel untuk pengganti solar, tenaga panas bumi, mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin, bahkan sampah atau limbah pun dapat digunakan untuk membangkitkan listrik. Hampir semua sumber energi tersebut sudah dicoba dan diterapkan dalam skala kecil di Indonesia. Mementum krisis bahan bakar minyak saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menata dan menerapkan dengan serius berbagai potensi tersebut. Meski saat ini sangat sulit untuk melakukan subsidi total terhadap bahan bakar fosil, namun implementasi sumber energi terbarukan sangat penting untuk segera dimulai. Hal ini sangat membutuhkan suatu pemahaman yang konfrehensif dari berbagai pihak dalam mengatasi masalah krisis energi terutama dibidang kelangkaan bahan bakar minyak.

Pemahaman secara konfrenhensif tentang krisis kelangkaan bahan bakar minyak ini tentunya harus terarah pada pemecahan masalah sosial masyarakat yang pelaksanaannya dapat dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, oleh pemerintah, oleh LSM atau gabungan dari ketiganya sehingga dampak dari kelangkaan bahan bakar minyak ini dapat dikurangi atau diatasi dan masyarakat tidak lagi mengalami kelangkaan energi untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Proses pemberian informasi pemahaman kepada masyarakat ini tentunya harus didasarkan pada situasi lingkungan masyarakat, masalah yang dihadapi masyarakat, mencari tujuan untuk pemecahan masalah, dan tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut sehingga tujuan dapat tercapai sesuai dengan yang direncanakan secara efektif dan efisien.

Melalui pendidikan orang dewasa dapat dilakukan suatu proyek belajar yang dapat membantu orang dewasa mengatasi krisis energi yang dialaminya. Proyek belajar tersebut berisi tentang indentifikasi dan pemecahan masalah yang dibahas dalam setiap episode pembelajaran. Seperti: mengidentifikasi energi alternatif apa saja yang bisa dibuat oleh masyarakat berdasarkan sumberdaya lokal yang tersedia, bagaimana proses pembuatan energi alternatif, dan bagaimana cara menggunakan energi alternatif tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Proses implementasi pelaksanaan proyek belajar tersebut tentunya didasarkan pada pemahaman tentang filsafat pendidikan, filsafat kerja dan filsafat umum. Pemahaman tentang filsafat terutama filsafat kerja yang dibangun dari filsafat pendidikan dan filsafat umum sangat penting diketahui oleh seorang tenaga pengajar atau fasilitator dalam berinteraksi dengan orang dewasa. Karena dengan menggunakan filsafat kerja, maka fasilitator dapat memahami dan memilih pendekatan yang sesuai untuk membantu orang dewasa dapat menjawab permasalahan yang dihadapinya.

Filsafat kerja yang harus dibangun oleh seorang fasilitator orang dewasa adalah bagaimana belajar dari keseimbangan antara manusia dengan masyarakat dan manusia dengan lingkungan alam. Dalam hal ini apakah manusia secara keseluruhan merupakan bagian dari lingkungan alam, secara keseluruhan terpisah dari alam atau sebagian termasuk dan sebagian lainnya terpisah dari lingkungan alam. Agar terjadi hubungan sinergi antara manusia dengan alam (ekosistem) maka manusia harus selaras dengan alam, sehingga terjadi suatu interaksi dalam mengadopsi suatu inovasi ilmu pengetahuan.

Krisis energi di Indonesia tentunya memberikan pemahaman perlunya mencari energi alternatif yang potensial tersedia di sekitar lingkungan masyarakat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara efektif, efisien dan berkesinambungan. Tentunya hal ini memerlukan adanya pengetahuan dari masyarakat untuk mengenali energi-energi alternatif melalui hubungan timbal balik antara manusia, masyarakat dan lingkungan alam.

Berdasarkan definisi pendidikan orang dewasa pada uraian nomor satu, maka peran pendidikan orang dewasa dalam membantu orang dewasa mengatasi krisis energi dapat diuraikan sebagai berikut: orang dewasa berdasarkan kebutuhannya akan selalu berusaha mencari solusi bagaimana agar kelangkaan bahan bakar minyak ini dapat diatasi dengan menggunakan energi alternatif yang memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitar lingkungannya. Untuk melakukan proses belajar tersebut orang dewasa tentunya harus memerlukan input ilmu pengetahuan dari berbagai sumber baik dari pengalaman dirinya maupun dari hasil interaksi dengan orang lain termasuk penyuluh.

Proses interaksi dan pengalaman dari orang dewasa akan melahirkan suatu pemahaman bahwa, krisis energi yang dipengaruhi oleh kelangkaan bahan bakar minyak dapat disubstitusi dengan menggunakan kotoran sapi atau kerbau yang dapat dirubah menjadi biogas sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar minyak. Satu ekor sapi atau kerbau dapat menghasilkan kurang lebih 2 m3 biogas per hari, sehingga untuk 2 – 3 ekor sapi atau kerbau dapat menghasilkan 4 - 6 m3 biogas per hari. Hal ini setara dengan 2,5 liter minyak tanah atau solar, 1,84 kg elpiji, 3,2 liter premium, 14 kg kayu bakar, dan 60 – 100 watt setara 24 jam listrik.

Melalui pendekatan pendidikan orang dewasa konsep akan penggunaan bahan bakar alternatif ini dapat disebarluaskan kepada masyarakat berdasarkan kemampuan dan potensi sumberdaya lokal dalam masyarakat tersebut. Pendekatan pendidikan orang dewasa dapat dilakukan dengan mengadakan penyuluhan secara partisipatif akan pentingnya penggunaan bahan bakar alternatif bersumber dari biogas yang memiliki manfaat antara lain: (1) mengatasi limbah ternak sapi (feses dan sisa pakan), (2) bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah, elpiji, batu bara, generator atau listrik, (3) limbah biogas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk dan pakan ternak.

Berdasarkan hal tersebut masyarakat akan mampu mengetahui dan menentukan kebutuhan sumber energi alternatif dari lingkungan alam sekitar, mampu merumuskan tujuan belajar mereka sendiri dan ikut serta secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan belajar yang dapat dilakukan dimana saja, hal ini berarti proses belajar dapat berlangsung secara demokratis dan tidak terikat pada ruang kelas.

Setelah memahami tujuan dan manfaat dari bahan bakar alternatif yang bersumber dari biogas, maka diperlukan suatu pembelajaran mengenai bagaimana teknik membuat biogas dari kotoran sapi dan kerbau serta pemeliharaan biogas itu sendiri yang dapat dimanfaatkan secara efektif, efisien dan berkesinambungan. Sehingga diperlukan peran penyuluh sebagai fasilitator untuk memberikan pelatihan tentang pembuatan biogas, yang dimulai dari penyediaan bahan baku, proses pembuatan, dan aplikasi pemanfaatan biogas.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka pendidikan orang dewasa dapat membantu orang dewasa mengatasi krisis energi antara lain dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang berpotensi menghasilkan sumber energi alternatif yang mudah dalam proses pembuatannya, murah biayanya, mudah digunakan dan selaras dengan alam serta merupakan energi yang dapat diperbaharui dan berkelanjutan.

3. Opini Prospek Perkembangan Pendidikan Orang Dewasa di Masa Depan

Pendidikan merupakan kebutuhan untuk hidup karena ada anggapan bahwa pendidikan berfungsi sebagai alat dan sebagai pembaharuan hidup. Dalam pemenuhan kebutuhan tersebut terjadi interaksi antara individu dengan lingkungannya. Adanya kelangsungan hidup karena adanya adaptasi. Kehidupan masyarakat tumbuh melalui proses transmisi seperti kehidupan biologis yang berlangsung melalui perantara atau alat komunikasi dalam bertindak, berpikir, dan merasakan dari yang lebih tua dengan yang muda. Maka untuk kelangsungan hidup diperlukan suatu usaha untuk mendidik anggota masyarakat agar nantinya pemenuhan kebutuhan tersebut akan terus berlangsung renewal of life tidak berlangsung secara otomatis tetapi tergantung banyak faktor seperti teknologi, seni, ilmu dan perwujudan moral kemanusiaan.

Pertumbuhan orang dewasa dimulai pertengahan masa remaja (adolescence) sampai dewasa, di mana setiap individu tidak hanya memiliki kecenderungan tumbuh kearah menggerakkan diri sendiri tetapi secara aktual dia menginginkan orang lain memandang dirinya sebagai pribadi yang mandiri yang memiliki identitas diri. Dengan begitu orang dewasa tidak menginginkan orang lain memperlakukan dirinya seperti anak-anak. Dia mengharapkan pengakuan akan otonomi dirinya, dan dijamin ketentramannya untuk menjaga identitas dirinya dengan penolakan dan ketidaksenangan akan usaha orang lain untuk menekan, memaksa, dan manipulasi tingkah laku yang ditujukan terhadap dirinya.

Orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (problem centered orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa. Selain itu, bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera, sehingga hal ini menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.

Pembelajaran yang diberikan kepada orang dewasa dapat efektif (lebih cepat dan melekat pada ingatannya), bilamana pembimbing (pelatih, pengajar, penatar, instruktur, dan sejenisnya) tidak terlalu mendominasi kelompok kelas, mengurangi banyak bicara, namun mengupayakan agar individu orang dewasa itu mampu menemukan alternatif-alternatif untuk mengembangkan kepribadian mereka. Dalam upaya ini, diperlukan keterampilan dan kiat khusus yang dapat digunakan dalam pembelajaran tersebut. Di samping itu, orang dewasa dapat dibelajarkan lebih aktif, apabila mereka merasa ikut dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran terutama apabila mereka dilibatkan memberi sumbangan pikiran dan gagasan yang membuat mereka merasa berharga dan memiliki harga diri di depan sesama temannya. Artinya, orang dewasa akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadinya dihormati, dan akan lebih senang kalau ia diberi kesempatan untuk mengemukakan ide pikirannya, pengalamannya daripada fasilitator mendominasi dalam menjelaskan teori dan gagasannya sendiri kepada mereka.

Pendidikan orang dewasa di Indonesia sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah orang dewasa yang selalu menghambat perkembangan orang dewasa dalam berpikir, berbuat dan bertindak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang dewasa di Indonesia banyak memiliki masalah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Permasalahan yang dihadapi orang dewasa di Indonesia ini terutama pada tataran kehidupan sosial, ekonomi, politik dan keamanan. Hal ini memerlukan suatu pemecahan masalah yang konfrehensif dan terarah sesuai dengan perkembangan individu dalam masyarakat. Pemecahan masalah yang paling konkrit adalah berawal pada diri sendiri dan keluarga inti. Pemberdayaan keluarga sebagai lembaga pendidikan informal dimana nilai-nilai kemanusiaan disosialisasikan sejak awal. Kemudian meluas ke keluarga yang lebih besar, dengan memberi dukungan agar terjadi kesadaran mengenai nilai-nilai kemanusiaan dan potensi yang dimiliki.

Adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat sekarang ini menyebabkan informasi atau teknologi tersebut selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman, orang dewasa akan mengalami ketertinggalan atau tidak dapat berpartisipasi dalam masyarakat yang berubah jika tidak mengikuti perkembangan informasi atau teknologi tersebut, karena tuntutan masyarakatnya berubah. Oleh karena itu orang dewasa perlu selalu memperbaharui informasi atau teknologi yang dimilikinya. Untuk dapat memperbaharui informasi dan teknologi, maka peranan pendidikan orang dewasa sangat diperlukan untuk menjawab kebutuhan tersebut.

Tentang Penulis:
*) Staf Pengajar pada Universitas Negeri Gorontalo (UNG-GORONTALO)
**) Staf Pengajar pada Institut Pertanian Bogor (IPB-BOGOR)
***) Staf Pengajar pada Universitas Tirta Agung Kertayasa (UNTIRTA-BANTEN)

No comments: